Selasa, 17 Juli 2012

DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM



A.      Pengertian Desain Kurikulum
Desain biasa diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah kalimat, kata "desain" bisa digunakan baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, "desain" memiliki arti "proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru". Sebagai kata benda, "desain" digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk obyek nyata. Dalam kaitannya hal ini di artikan sebagai proses daripada pelaksanaan atau penerapan model kurkulum dalam dunia pendidikan[1] Sedangkan kurikulum dapat  diartikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[2] Mendesain kurikulum berarti menyusun rancangan atau menyusun model kurikulum sesuai dengan misi dan visi sekolah[3]
Menurut George A. Beauchamp ”….Curriculum design may be defined as the substance and organization of goal and culture content so arranged as to reveal potential progression through levels of schooling”. (Desain kurikulum bisa digambarkan sebagai unsur pokok, komponen hasil atau sasaran dan kultur yang membudaya).[4]
Menurut Oemar Hamalik pengertian Desain adalah suatu petunjuk yang memberi dasar, arah, tujuan dan teknik yang ditempuh dalam memulai dan melaksanakan kegiatan. Fred Percival dan Henry Ellington dalam Hamalik mengemukakan bahwa desain kurikulum adalah pengembangan proses perencanaan, validasi, implementasi, dan evaluasi kurikulum.[5]
Dan menurut Nana S. Sukmadinata desain kurikulum adalah menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi horizontal dan vertikal. Dimensi horizontal berkenaan dengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum. Sedangkan dimensi vertikal menyangkut penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran.[6]

B. Prinsip-Prinsip dalam Mendesain Kurikulum
Saylor dalam buku Oemar Hamalik mengajukan delapan prinsip ketika akan mendesain kurikulum, prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Desain kurikulum harus memudahkan dan mendorong seleksi serta pengembangan semua jenis pengalaman belajar yang esensial bagi pencapaian prestasi belajar, sesuai dengan hasil yang diharapkan.
2.      Desain memuat berbagai pengalaman belajar yang bermakna dalam rangka merealisasikan tujuan–tujuan pendidikan, khususnya bagi kelompok siswa yang belajar dengan bimbingan guru;
3.      Desain harus memungkinkan dan menyediakan peluang bagi guru untuk menggunakan prinsip-prinsip belajar dalam memilih, membimbing, dan mengembangkan berbagai kegiatan belajar di sekolah;
4.      Desain harus memungkinkan guru untuk menyesuaikan pengalaman dengan kebutuhan, kapasitas, dan tingkat kematangan siswa
5.      Desain harus mendorong guru mempertimbangkan berbagai pengalaman belajar anak yang diperoleh diluar sekolah dan mengaitkannya dengan kegiatan belajar di sekolah;
6.      Desain harus menyediakan pengalaman belajar yang berkesinambungan, agar kegiatan belajar siswa berkembang sejalan dengan pengalaman terdahulu dan terus berlanjut pada pengalaman berikutnya;
7.      Kurikulum harus di desain agar dapat membantu siswa mengembangkan watak, kepribadian, pengalaman, dan nilai-nilai demokrasi yang menjiwai kultur; dan
8.      Desain kurikulum harus realistis, layak, dan dapat diterima.[7]

C. Desain Kurikulum Pendidikan Islam
Pada dasarnya desain kurikulum secara teori dapat dikatakan sama antara kurikulum pendidikan Islam dengan kurikulum secara Umum. Kemudian yang membedakan hanyalah pada tujuan yang hendak dicapai masing-masing lembaga.
Dalam kurikulum nasional (PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan), semua program belajar sudah baku dan siap untuk digunakan oleh pendidik atau guru. Kurikulum yang demikian sering bersifat resmi dan dikenal dengan nama ideal curriculum, yakni kurikulum yang masih berbentuk cita-cita.
Kurikulum yang masih berbentuk cita-cita tersebut masih perlu dikembangkan menjadi kurikulum yang berbentuk pelaksanaan, atau sering dikenal dengan actual curriculum, yakni kurikulum yang dilaksanakan oleh pendidik dalam proses belajar mengajar.
Dalam menyusunatau mendesain kurikulum (dalam rangka mengembangkan kurikulum) sangatlah tergantung pada asas organisatoris, yakni bentuk penyajian atau pengimplementasian bahan pelajaran (organisasi kurikulum). Oleh karena itu, desain pengembangan kurikulum dalam pendidikan Islam diarahkan bagaimana kurikulum dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip kurikulum perspektif Islam.
Seperti pernyataan Muhaimin yang dikutip oleh Mujamil, bahwa kurikulum madrasah perlu dikembangkan secara terpadu dengan menjadikan ajaran dan nilai-nilai agama sebagai petunjuk dan sumber konsultasi bagi pengembangan berbagai mata pelajaran umum, yang operasionalnya dapat dikembangkan dengan cara mengimplisitkan ajaran dan nilai-nilai Islam ke dalam bidang studi IPA, IPS dan sebagainya, sehingga kesan dikotomis tidak terjadi. Kemudian model pembelajaran bisa dilaksanakan melalui team teaching, yakni guru bidang studi IPS, IPA dan lainnya bekerja sama dengan guru PAI dalam menyusun desain pembelajaran secara konkrit dan detail, untuk diimplementasikan dalam  kegiatan pembelajaran.[8]
Berdasarkan pada apa yang menjadi fokus pengajaran, dikenal beberapa desain kurikulum, yaitu:[9]
1.    Subject Centered Design
Suatu desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar. Subject centered design merupakan bentuk desain yang paling tua dan paling banyak digunakan sampai sekarang. Kurikulum dipustkan pada isi atau materi yang diajarkan, kurikulum disusun atas sejumlah mata pelajaran dan diajarkan secara terpisah-pisah (Sapared subject curriculum). Desain kurikulum ini menekankan pada penguasaan pengetahuan, isi, nilai-nilai dan warisan budaya masa lalu dan berupaya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya, maka desain ini disebut juga “Subject Academic Curriculum”.
 Sesuai dengan pernyataan Tyler dan Alexander yang dikutip oleh Soetopo dan Soemanto, menyebutkan bahwa jenis kurikulum ini digunakan dengan school subject, dan sejak beberapa abad hingga saat ini pun masih banyak didapatkan di berbagai lembaga pendidikan. Kurikulum ini terdiri dari beberapa mata pelajaran, yang tujuan pelajarannya adalah anak didik harus mengusai bahan dari tiap-tiap mata pelajaran yang telah ditentukan secara logis, sistematis dan mendalam.[10]
Imla’
Nahwu
Sharaf
Khat
Muhadatsah
Qiraat
Balaghah

Jika kita perhatikan gambar di atas, akan tampak dibenak kita bahwa kurikulum mata pelajaran ini menghendaki anak didik untuk mengambil mata pelajaran yang lebih banyak. Misalnya, bahasa Arab ada mata pelajaran khat, imla’, qiraat, sharaf, nahwu, muhadatsah, dan balaghah. Para anak didik dituntut untuk menguasai semua pengetahuan yang diberikan, apakah mereka menyenangi atau tidak, membutuhkannya atau tidak.
Dalam desain ini terdapat kelebihan dan kelemahannya, kelebihan desain ini yaitu:
a.       Mudah disusun, dilaksanakan dievaluasi dan disempurnakan
b.      Para pengajar tidak perlu dipersiapkan khusus, bila dipandang menguasai ilmu atau bahan ajar, maka dipadang sudah dapat menyampaikannya.
Dan kelemahannya yaitu:
a.       Karena pengetahuan diberikan secara terpisah-pisah, hal ini bertentangan bahwab pengetahuan merupakan satu kesatuan
b.      Peran serta anak didik sangat pasif karena mengutamakan bahan ajar
c.       Pengajaran lebih menekankan pengetahuan dan kehidupan masa lalu, pengajaran bersifat verbalistis dan kurang praktis.
Ada tiga bentuk Subject Centered Design yaitu:
a. The Subject Design
The Subject Curiculum merupakan bentuk desain yang paling  murni dari  subject centered design. Materi pelajaran disajikan secara terpisah-pisah dalam bentuk mata-mata pelajaran. Model desain ini telah ada sejak lama. Orang-orang Yunani kemudian Romaawi mengembangkan Trivium dan Quadrivium. Trivium meliputi gramatika, logika, dan retorika, sedangkan Quadrivium meliputi matematiks, geometri, astonomi, dan musik. Paada saat itu pendidikan tidak diarahkan  pada mencari nafkah, tapi pada pembentuakan pribadi dan status sosial (Liberal Art). Pendidikan hanya di peruntukan bagi anak-anak golongan bangsawan yang tidak usah bekerja mencari nafkah.
Pada abad 19 pendidikan tidak lagi diarahkan pada pendidikan umum (liberal art) tetapi pada pendidikan yang lebih bersifat praktis., berkenaandengan mata pencaharian (pendidikan vokasional). Pada saat itu mulai berkembang mata-mata pelajaran fisika, kimia, biologi, bahasa yang masih bersifat teoritis, juga berkembang  mata-mata pelajaran praktid seperti pertanian, ekonomi, tata buku, kesejahteraan keluarga, keterampilan dan lain-lain. Isi pelajaran di ambil dari pengetahuan, dan nilai-nilai yang telah ditemukan oleh ahli-ahli sebelumnya. Para siswa di tuntut  untuk menguasai semua pengetahuan yang diberikan, apakah mereka menyenangi atau tidak, membutuhkannya atau tidak. Karena pelajaran-pelajaran diberikan secara terpisah-pisah, maka siswa menguasainya pun terpisah-pisah pula. Tidak jarang siswa menguasai bahan hanya pada tahap hafalan, bahkan dikuasai secar verbalitas.
Lebih rinci kelemahan-kelemahan bentuk kurikulum ini adalah :
1)      kurikulum memberikan pengetahuan terpisah-pisah, satu terlepas dari yang lainnya.
2)      isi kurikulum diambil dari masa lalu, terlepas dari kejadian-kejadian yang hangat, yang sedang berlangsung saat sekarang.
3)      Kurikulum ini kurang memperhatiakan minat, kebuutuhan dan pengalaman peserta didik
4)      Isi kurikulum disusun berdasarkan sistematika ilmu sering menimbulkan kesukaran di dalam mempelajari dan menggunakannya
5)      Kurikulum lebih mengutamakan isi dan kurang memperhatiakn cara penyampaian. Cara penyampaian utama adalah ekspositori yang menyebabkan peran siswa pasif.
Meskipun ada kelemahan-kelemahan di atas, bentuk desain kurikulum ini mempunyai beberapa kelebhan karena kelebihan-kelebihan tersebut  bentuk kurikulum ini lebih banyak dipakai.
1)      Karena materi pelajaran diambil dari ilmu yang sudah tersusun secara  sitematis logis, maka penyusunnya cukup mudah.
2)      Bentuk ini sudah di kenal sejak lama, baik oleh guru-guru maupun orang tua, sehingga lebih mudah  untuk dilaksanakan.
3)      Bentuk ini memudahkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan di perguruan tinggi, sebab pada perguruan tinggi umumnya menggunakan bentuk ini
4)      Bentuk ini dapat dilaksanakan secara efisien, karena metode utamanya adalah metode ekspositori yang dikenal tingkat efisiennya cukup tinggi
5)      Bentuk ini sagat ampuh sebagai alat untuk melestarikan dan mewariskan warisan budaya masa lalu.
b. The Disciplines Design
Bentuk ini merupakan pengembangan dari  subject design keduanya masih menekankan kepada isi materi kurikulum. Walaupun bertolak belakang dari hal yang sama tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Pada  subject design belum ada kriteria  yang tegas tentang apa yang disebut subject  (ilmu). Belum ada perbedaan antara matematika, psikologi dengan teknik atau cara mengemudi, semuanya disebut subject. Pada disciplines design kriteria tersebut telah tegas, yang membedakan apakah suatu pengetahuan itu ilmu atau subject dan bukan adalah batang tubuh ke ilmuannya. Batang tubuh keilmuan menentukan apakah suatu bahan pelajaran itu disiplin ilmu atau bukan, Untuk menegaskan hal itu mereka menggunakan istilah disiplin.
Isi kurikulum yang diberikan di sekolah adalah dusiplin-disiplin ilmu. Menurut pandangan ini sekolah adalah mikrokosmos dari dunia intelek, batu pertama dari hal itu adalah isi dari kurikulum. Para pengembang kurikulum dari aliran ini berpegang   teguh pada disiplin-disiplin ilmu seperti : fisika, biologi, psikologi, sosiologi dan sebagainya.
Perbedaan lain adalah dalam tingkat penguasaan, disciplines design  tidak seperti  subject design yang menekankan penguasaab fakta-fakta dan informasi tetapi pada pemahaman (understing). Para peserta didik didorong untuk memahami logika  atau struktur dasar  suatu disiplin, memahami konsep-konsep, ide-ide dan prinsip-prinsip penting juga didorong untuk memahami cara mencari dan menemukannya (modes of inquiry and discovery). Hanya dengan meguasai hal-hal itu, kata mereka, peserta didik akan memahami masalah dan mampu melihat hubungan berbagai fenomena baru.
Proses belajarnya tidak lagi menggunakan pendekatan ekspositori yang menyebabkan peserta didik lebih banyak pasif, tetapi menggunakan pendekatan inkuiri dan diskaveri. Disciplines design sudah menintegrasikan unsur-unsur progersifisme dari Dewey. Bentuk ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan subject design. Pertama, kurikulum ini bukan hanya memiliki organisasi yang sistematik dan efektif tetapi juga dapat memelihara integritas intelektual pengetahuan manusia. Kedua, peserta didik tidak hanya menguasai serentetan fakta, prinsip hasil hafalan tetapi menguasai konsep, hubungan dan proses-proses intelektual yang berkembang pada siswa.
Meskipun telah menunjukan beberapa kelebihan bentuk, desain ini maasih memiliki beberapa kelemahan. Pertama, belum dapat memberikan pengetahuan yang berintegrasi. Kedua, belum mampu mengintegrasikan sekolah dengan masyarakat atau kehidupan. Ketiga, belum bertolak dari minat dan kebutuhan atau pengalaman peserta didik. Keempat, susunan kurikulum belum efisien baik untuk kegiatan belajar maupun untuk penggunaannya. Kelima, meskipun sudah lebih luas  dibandingkan dengan  subject design tetapi secara akademis dan intelektual masih cukup sempit.
c. The Broad Fields Design
Baik subject design maupun  disciplines design masih menunjukan adanya pemisahan antar mata pelajaran. Salah satu usaha untuk menghilangkan pemisahan tersebut adalah mengembangkan The broad field design. Dalam model ini mereka menyatukan beberapa mata pelajaran yang berdekatan atau berhubungan menjadi satu bidang studi seperti sejarah, Geografi, dan Ekonomi digabung menjadi ilmu Pengetahuan sosial, Aljabbar, Ilmu ukur, dan Berhitung menjadi matematika, dan sebagainya.
Tujuan pengembangan kurikulum broad field adalah menyiapakan para siswa yang dewasa ini hidup dalam dunia informasi yang sifatnya spesialistis, dengan pemahaman yang bersifat menyeluruh. Bentuk kurikulum ini banyak digunakan di sekolah menengah pertama, di sekolah menengah atas penggunaannya agak terbatas apalagi di perguruan tinggi sedikit sekali.
Ada dua kelebihan penggunaan kurikulum ini. Pertama, karena dasarnya bahan yang terpisah-pisah, walaupun sudah terjadi penyatuan beberapa mata kuliah masih memungkinkan penyusunan warisan-warisan budaya secara sistematis dan teratur. Kedua, karena mengintegrasikan beberapa mata kuliah memungkinkan peserta didik melihat hubungan antara beberapa hal.
Di samping kelebihan tersebut, ada beberapa kelemahan model kurikulum ini. Pertama, kemampuan guru, untuk tingkat sekolah dasar guru mampu menguasai bidang yang luas, tetapi untuk tingkat yang lebih tinggi, apalagi di perguruan tinggi sukar sekali. Kedua, karena bidang yang dipelajari itu luas, maka tidak dapat diberikan secara mendetail, yang diajarkan hanya permukaannya saja. Ketiga, pengintegrasian bahan ajar terbatas sekali,tidak menggambarkan kenyataan, tidak memberikan pengalaman yang sesungguhnya bagi siswa, dengan demikian kurang membangkitkan minat belajar. Keempat, meskipun kadarnya lebih rendah di bandingkan dengan subject design,  tetapi model ini tetap menekankan proses pencapaian tujuan yang sifatnya afektif dan kognitif tingkat tinggi.
Fuaduddin dan Karya mengemukakan tentang kurikulum broad fields dalam kaitannya dengankurikulum di Indonesia. Ada lima macam bidang studi yang menganut broad fields ini, yaitu:
1)      Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), merupakan peleburan dari mata pelajaran Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Kimia, dan Ilmu Kesehatan.
2)      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), merupakan peleburan dari mata pelajaran Ilmu Bumi, Sejarah, Civic, Hukum, Ekonomi, dan sejenisnya.
3)      Bahasa, merupakan peleburan dari mata pelajaran Membaca, Menulis, Mengarang, Menyimak, dan Pengetahuan Bahasa.
4)      Matematika, merupakan peleburan dari Berhitung, Aljabar, Ilmu Ukur Sudut, Bidang, Ruang, dan Statistik.
5)      Kesenian, merupakan peleburan dari Seni Tari, Seni Suara, Seni Klasik, Seni Pahat, dan Drama.[11]

2.    Learner Centered Design
                Suatu desain kurikulum yang mengutamakan peranan siswa. Learner centered, memberi tempat utama kepada peserta didik. Di dalam pendidikan atau pengajaran yang belajar dan berkembang  adalah peserta didik sendiri. Guru atau pendidik hanya berperan menciptakan situasi belajar-mengajar, mendorong  dan memberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Ada beberapa variasi model ini yaitu The Activity atau Experience Design, humanistic design, the open, free design, dan lain-lain. Pada tulisan ini akan dikemukakan tentang The Activity atau Experience Design
The Activity atau Experience Design model  desain berawal pada abad ke 18, atas hasil karya dari rousseau dan Pestalozzi, yang berkembang pesat pada tahun 1920/1930an pada masa kejayaan pendidikan progresif.
Beberapa ciri utama activity atau experience design:
1)      struktur kurikulum ditentukan oleh kebutuhan danminat pesertadidik. Dalam implementasinya guru hendaknya:
a) Menemukan minat dan kebutuhanpeserta didik,
b) Membantu para siswa memilih mana yang paling penting dan urgen .
2)      karena struktur kurikulum didasarkan atas minat dan kebutuhan peserta didik, maka kurikulum tidak dapat di susun jadi sebelumnya, tetapi disusun bersama oleh siswa.
3)      Desain kurikulum menekankan prosedur pemecahan masalah, maksudnya dalam pembelajaran tentu akan di dapatkan masalah dan dalam activity design perlu mempunyai cara memecahkan masalah tersebut,.
Beberapa kelebihan dari design kurikulum :
1)      karena program pendidikan berasal dari peserta didik,maka tidak banyak mengalami kesulitan merangsang peserta didik dalam motivasi belajar.
2)      pengajaran memperhatikan individual,meskipun di bentuk kelompok sekalipun karena mereka juga harus berperan aktif dalm kelompok.
3)      kegiatan- kegiatan pemecahan masalah memberikan bekal kecakapan dan pengetahuan untuk menghadapi kehidupan di luar sekolah.
Kritik untuk kurikulum ini:
1)      Pertama, perbedaan pada minat dan kebutuhan peserta didik yang kerap terjadi.
2)      kurikulum tidak mempunyai pola karena sumber pemikiran berasaldari peserta didik.
3)      activity design curriculum sangat lemah dalam kontinuitas dan sekuens. Dasar minat peserta didik tidak memberikan landasan yang kuat.
4)      kurikulum ini tidak dapat dilakukan oleh guru biasa karena membutuhkan ahli general education plus ahli psikologi perkembangan fan human relation.

3.    Problem Centered Design
                        Desain kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Problem centered design berpangkal pada filsafat yang mengutamakan peranan manusia (man centered). Desain kurikulum ini berangkat dari asumsi bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang selalu hidup bersama. Konsep ini menjadi landasan dalam pendidikan dan pengembangan kurikulum, dan isi kurikulum berupa masalah-masalah sosial yang dihadapi peserta didik sekarang dan akan datang, sedangkan tujuan disusun berdasarkan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan peserta didik. Minimal ada dua variasi model desain kurikulum ini, yaitu the areas of living design, dan The core design.
a. The Area of Living Design
Dalam prosedur belajar ini tujuan yang bersifat proses (process objectives) dan yang bersifat isi (content objectivies) diintegrasikan. Penguasaan informasi- unformasi yang bersifat pasiftetap dirangsang. Cirri lai yaiti menggunakan pengalaman dan situasi – situasi dari peserta didik sebagai pembuka jalan  dalam mempelajari bidang-bidang kehidupan.
Dalam the areas of living hubungannya dengan bidang-bidang kehidupan sehingga dapat dikatakan suatu desain bidang-bidang kehidupan yang dirumuskan dengan baikakan merangkumkan pengalaman-pengalaman peserta didik.
Desain ini mempunyai beberapa kebaikan diantanya:
1)      the areas of living desaign merupakan the subject matter design tetapi dalam bentuk yang terintegrasi. Pemisahan antara subject dihilangkan oleh problema- problema kehidupan sosial.
2)      karena kurikulum diorganisasikan di sekitar  problema- problema peserta didik maka kurikulum ini menggunakan  prosedur pemecahan masalah.
3)      menyajikan bahan ajar yang relevan, untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan.
4)      menyajikan bahan ajar dalam bentuk yang professional.
5)      motivasi berasal dari peserta didik.

Beberapa kritikan tentang desain ini:
1)      penentuan lingkup dan sekuens dari bidang-bidang kehidupan yang sangat esensial sangat sukar.
2)      lemahnya integrasi kurikulum
3)      desain ini megabaikan warisan budaya.
4)      para peserta didik memandang masalah untuk sekarng dan masa depan dan mengabaikan masa lalu.
5)      buku dan media lain tidak banyak disiapkan untuk model ini sehingga mengalami kesulitan.
b. The Core Curriculum
The core design kurikulum yang timbul sebagai reaksi utama kepada separate subjects design, dengan sifatnya yang terpisah-pisah. Desain ini mengintegrasikan bahan ajar, dengan memilih mata pelajaran tertentu sebagai inti (core). Sedangkan pelajaran lainnya dikembangkan disekitar core tersebut. Menurut konsep ini, inti-inti bahan ajar dipusatkan pada kebutuhan individual dan sosial.
Kurikulum ini merujuk pada suatu rencana yang mengorganisasikan dan mengatur bagian terpenting dari program pendidikan umum di sekolah, yaitu merujuk pada pengalaman belajar yang fundamental bagi peserta didik, karena pengalaman belajar berasal dari: a) kebutuhan atau dorongan secara individual maupun secara umum, dan b) kebutuhan secara sosial dan sebagai warga negara masyarakat demokratis.[12]
Mayoritas memandang core curriculum sebagai suatu model pendidikan atau program pendidikan yang memberikan pendidikan umum. Pada beberapa kurikulum yang berkembang dewasa ini di Indonesia, core curriculum disebut sebagai kelompok mata kuliah atau pelajaran dasar umum, dan diarahkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan pribadi dan sosial.
The core curriculum diberikan guru-guru yang memiliki penguasaan dan berwawasan luas, bukan spesialis. Disamping memberikan pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan sosial, guru-guru juga memberikan bimbingan terhadap perkembangan sosial pribadi peserta didik. Ada beberapa variasi desain core curriculum yaitu:
1)      The Separated Subject Core, yaitu salah satu usaha untuk mengatasi keterpisahan antar mata pelajaran, beberapa mata pelajaran yang dipandang mendasari atau menjadi inti mata pelajaran lainnya dijadikan core.
2)      The Correlated Core,yaitumengintegrasikan beberapa mata pelajaran yang erat hubungannya.
3)      The Fused Core,yang menampakkan mata pelajaran yang dilebur dan diintegrasikan, misalnya Sejarah, Geografi, Antropologi, Sosiologi, Ekonomi dipadukan menjadi Studi Kemasyarakatan.
4)      The Experience Core, yaitumata pelajaran yang dipusatkan pada minat-minat dan kebutuhan peserta didik.
5)      The Areas of Living Core,yaitu pendidikan umum yang isinya diambil dari masalah-masalah yang muncul di masyarakat, dan bersifat cenderung memelihara dan mempertahankan kondisi yang ada.
6)      The Social Problem Core, yaitu didasarkan pada problema-problema yang mendasar dan bersifat kontroversial, misalnya Kemiskinan, Kelaparan, Inflasi, Perang Nuklir, dan sebagainya. Hal tersebut merupakan sesuatu yang mendesak untuk dipecahkan.
Misalkan aplikasi di Perguruan Tinggi Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, tanpa memperhatikan jurusan masing-masing dapat dilihat kurikulumnya yaitu:
a.    Pancasila
b.    Civic Education
c.    Bahasa Arab
d.   Bahasa Inggris
e.    Bahasa Indonesia, dan sebagainya.
Mata kuliah di atas disebut mata kuliah dasar umum yang harus diambil oleh semua mahasiswa dari semua jurusan dan semua program studi.


                [1] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Aplication Software
                [2]Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional
                [3] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenata Media Group, 2010) 63
                [4] George A  Beauchamp, Curriculum Theory, (The Kagg Press, Wilmette Illionis, 1976).101
                [5] Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan kurikulum.(Bandung: PT Remaja Rosdakarya 2008) 193
                [6] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum- Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja Rosda, 2007) 113
                [7] Oemar Hamalik, Dasar-dasar…193-194
                [8]Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, 2008), 157-158.
                [9] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum….113-124
                [10]Soetopo dan Soemanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 78.
                [11]Fuaduddin dan Karya, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, (Jakarta: Dirjen Bimbaga Islam dan Universitas Terbuka, 1992), 20.
                [12]Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), 14.

0 komentar:

Poskan Komentar